Klik disini
September 22nd, 2007 by akhi-adytest
test
Meli tak menyangka akan begini jadinya. Ia terus berlari dan berlari, menghindari kerumunan dan amukan massa di sekitar Jakarta Barat. Dari kejauhan terlihat jilatan api dari beberapa gedung dan sisa asap pembakaran mobil. Massa yang beringas —yang entah datang dari mana— bersorak sorai. Kemudian terdengar suara-suara sumbang penuh hasutan: “Cari Cina! Cari Cina!”
Beberapa mata mulai memandangnya. Meli bergidik. Beberapa mata mulai merasa menemukan sasaran. Meli menatap ke depan. Lengang, tak ada satu kendaraan pun yang bisa membawanya pergi dari tempat itu. Cemasnya menjadi-jadi. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Berlari sekuat-kuatnya? Masuk ke rumah penduduk? Mereka telah menutup pintu rapat-rapat tanpa berani membukanya, setidaknya saat ini. Lalu? Matanya mulai nanar.
Tiba-tiba di antara bayangan kepulan asap, tampak seorang lelaki tua lusuh dengan sebuah sepeda kusam tua, menghampirinya. “Ibu Cina ,ya! Ibu mau kemana? Cepat naik ke sepeda saya, bu! Cepat!!”
“Ojek sepeda ya…, pak?”
Bapak dengan baju tambalan di sana sini itu mengangguk pelan.
Tanpa berpikir panjang, Meli segera naik ke atas sepeda tersebut. Si Lelaki tua mengayuh sepedanya kuat-kuat disertai peluh bercucuran yang membasahi bagian punggung bajunya, meninggalkan massa yang berpesta dalam amukan dan beberapa pasang mata liar yang urung mengejar mereka.
Sampai di belakang Glodok Plaza, Meli melihat banyak orang mengambil barang dari dalam toko-toko di sekitar sana. Dengan wajah puas orang-orang itu mengangkuti televisi, radio, komputer, kulkas sampai mesin cuci dan lain sebagainya. Meli tak mengerti. Mungkinkah barang-barang itu diberikan oleh pemiliknya agar toko tersebut tak dibakar? Atau massa yang menjarahnya? Beberapa tentara tampak berjaga-jaga, namun tak melarang siapa pun yang ingin mengambil barang.
Di sudut yang sepi, Meli menyuruh bapak tua itu berhenti.
“Ada apa, bu?”
“Pak, mendingan bapak ikut ambil barang-barang itu dulu. Biar sepedanya saya yang jagain. Itu orang-orang pada ngambil. Ambil dulu, pak!” ujar Meli. Hatinya tergetar melihat kemiskinan dan perjuangan lelaki tua ini untuk menghidupi keluarganya. Ya, apa salahnya ia menunggu sebentar dan menjaga sepeda ini sementara bapak itu mengangkuti barang yang bisa dia bawa pulang.
Di luar dugaan, bapak tua itu menggeleng dan tersenyum getir. “Tidak, bu. Barang itu bukan milik saya. Bukan barang halal. Saya muslim, bu.”
Meli tercengang beberapa saat. Benar-benar terenyuh. Orang tak mampu seperti ini, ternyata punya prinsip hidup yang sangat mulia.
Saat sampai di tujuan, bapak itu hanya meminta ongkos tiga ribu rupiah, jumlah yang tak berbeda dengan bila tak ada kerusuhan. Meli memberinya empat ribu, dan bapak tua itu meninggalkannya dengan riang. “Terimakasih, bu.”
Meli menatap lelaki tua itu hingga menjadi titik di kejauhan. Ia telah mendapat satu pelajaran yang luar biasa. Bukan dari siapa-siapa. Hanya dari seorang miskin, seorang muslim, seorang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Dan dengan bangga, Meli menceritakannya pada saya.
(HTR, dari Pelangi Nurani, Penerbit Syaamil 2000)
KotaSantri.com "SAYANG, ayo kita shalat. Tuh dengar adzan telah berbunyi," ujar seorang ibu kepada anaknya yang tengah asyik nonton televisi.
"Sebentar lagi dong, ini lagi seru-serunya," jawab sang anak.
Ibu itu kemudian mendekat, "Sayang, tidak baik menunda-nunda shalat. Ini kan haknya Allah. Ayo matikan tivinya!"
"Iya deh," jawab sang anak sambil beranjak dari tempat duduk. Ia terlihat sangat kecewa karena harus meninggalkan televisi.
Selama di kamar mandi, si anak terus menggerutu. "Ah.. Ibu, tiap hari menggangu saja. Lagi enak-enaknya nonton disuruh shalat. Lagi seneng-senengnya main disuruh shalat. Lagi nyeyak tidur disuruh shalat. Harus baca Al-Qur’an lah. Harus ikut pengajian lah. Harus ini. Harus itu! Bikin pusiiiing.
* * *
SELEPAS shalat berjamaah, anak itu bertanya dengan nada protes. "Bu, kenapa sih kita harus shalat, harus puasa, harus baca Al-Qur’an, dan harus belajar? Bukankah itu mengganggu kesenangan kita? Lagi pula, menurut saya, semua itu tidak ada gunanya, tidak mendatangkan hasil."
Si Ibu sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia pun terdiam beberapa saat. Ada sedikit kemarahan yang muncul dalam hatinya. Tapi ia segera sadar bahwa yang bertanya adalah anak kecil, yang belum tahu apa-apa selain main dan bersenang-senang.
Sang Ibu beranjak mengambil sebuah lampu yang menempel di dinding kamar anaknya. Sesaat kemudian ia berkata, "Anakku sayang, kamu lihat lampu ini. Ia begitu indah. Bentuknya lonjong dengan dindingnya terbuat dari kaca yang bening. Tiap malam engkau bisa belajar, mengerjakan PR, dan nonton televisi, salah satu sebabnya karena diterangi lampu ini."
"Sayang, tahukah kamu mengapa lampu ini bisa menyala?" lanjut si Ibu.
"Ya, karena ada energi listrik yang berubah jadi cahaya," jawab sang anak.
"Benar sekali jawabanmu. Lalu apa yang menyambungkan lampu ini dengan sumber listrik tadi?" tanya si ibu lebih lanjut. Sang anak pun menjawab dengan pasti, "Yang menyambungkan lampu dan sumber listrik adalah kabel."
"Pintar sekali kamu," timpal si Ibu memuji.
"Nah, sekarang kamu pasti tahu, bila tidak ada kabel pasti lampu ini tidak akan nyala dan kamar ini pasti gelap. Bila demikian, ia tidak akan ada manfaatnya lagi, dan kamu tidak bisa belajar dan nonton tivi."
Sang Anak belum paham mengapa ibunya menceritakan lampu itu kepadanya. "Apa maksud Ibu?" tanyanya kemudian.
Ibu itu kembali berkata, "Anakku sayang, Allah itu sumber cahaya dalam hidup. Kita adalah lampunya. Ibadah yang kita lakukan menjadi kabel atau tali penghubungnya. Ibadah dapat menghubungkan antara Allah dengan manusia, tepatnya antara Allah dengan kita. Bila tidak mau beribadah, hidup kita akan gelap. Kita akan tersesat dan takkan berguna sedikit pun, seperti tak bergunanya lampu yang tak bercahaya."
Ibu itu melanjutkan, "Jadi, shalat, bersedekah, membaca Al-Qur’an, ataupun belajar adalah kabel yang akan menghubungkan kita dengan Allah."
Mendengar semua itu, sang anak tampak tertegun. Dalam hatinya timbul penyesalan akan sikapnya yang selalu menganggap remeh ibadah. Ia pun berkata, "Kalau begitu aku tidak akan meninggalkan shalat lagi dan akan membaca Al-Qur’an tanpa harus disuruh. Bu, maafkan saya ya!"
KotaSantri.com - Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, namun Allah memberikan karunia kehangatan keluarga pada kami semua. Meski tidak kaya kami tidak pernah merasa kekurangan. Bunda selalu bisa mengatur keuangan keluarga, meski gaji ayah tak seberapa. Tak jarang pula bunda harus tidur larut malam untuk menyelesaikan jahitan baju pesanan tetangga, semua hanya agar kami tidak kekurangan. Oh… bunda.
***
"Wia, makan dulu gih, bunda masak tempe bacem kesukaan Wia." kata bunda ketika aku sampai di dapur. Ku cium pipi dan tangannya, ada keharuan merasuk di relung hatiku. Bundaku memang tak seperti ibu-ibu modern saat ini, yang memoles kosmetik dan menyemprotkan parfum di sekujur tubuh. Tubuh bundaku memancar harum kasih sayang dan kurasa hanya anak-anaknya yang mengerti betapa harumnya bunda.
"Lho, kok malah bengong? Natap bunda lagi, kayak nggak pernah ketemu bunda aja." katanya heran.
"Abis bunda makin cantik sih." Saat itu bunda tertawa mendengar ucapanku seraya memencet hidungku. Oh bunda, aku sayang padamu…
***
Hari ini hari penerimaan raport, seperti biasa aku harus menunggu giliran ayah datang ke sekolahku. Ya… hari inilah hari paling repot menurut ayah, karena harus mengambil raport keempat anaknya di empat sekolah yang berbeda, sekaligus harus bekerja. Sering teman-temanku bertanya kenapa tidak bunda saja yang mengambilkan raport untukku agar aku tidak menunggu. Apalagi waktu penerimaan raport ‘kan hampir sama di setiap sekolah. Dan aku pasti menjawab saat ini bunda sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih penting di rumah.
Ah… hari yang indah. Terima kasih ya Allah. Ayah tersenyum ketika keluar dari kelasku dan menyerahkan buku biru berisi daftar nilai itu padaku.
"Oke profesor manis Ayah, seperti biasa kamu ranking kelas." katanya bangga. Alhamdulillaah hari ini aku bisa membuat ayah bangga.
"Tapi kamu pulang naik angkot aja ya! Soalnya ayah masih ada kerjaan." katanya melanjutkan.
"Oke deh bos, asal jangan lupa aja hadiahnya." Aku mengedipkan mata pada ayah, ia tersenyum lagi. Oh iya… bunda… aku hampir lupa, pulang ah. Akan kuberitahukan bunda. Hmmm…
***
"Assalammu’alaikum." Aku setengah berlari memasuki rumah. "Bunda." panggilku.
"Wa’alaikumussalam, aduh… anak bunda kok teriak-teriak." katanya tersenyum menyambutku.
"Bunda, Wia juara kelas, nih raportnya." kataku bangga. Kulihat bunda tersenyum, sama seperti ayah, ada kebanggaan di sinar matanya.
"Bagus ‘kan bunda, tuh nilai kimia Wia delapan, Wia seneng deh bunda." kataku sambil memeluk bunda kubacakan semua isi raport itu dengan bangga, bunda tersenyum.
"Alhamdulillaah ya nak." ucapnya lirih. Bunda balas memelukku, tiba-tiba kurasakan ada air hangat yang menetes dari pipi bunda. Ya Allah bunda menangis, "Apa aku salah bicara ya?" pikirku.
"Bunda… Bunda kok nangis, Wia salah ngomong ya?" kataku melepaskan pelukan bunda.
"Ndak, sayang, bunda bangga banget sama kamu. Bunda bangga karena kamu anak yang pintar dan selalu membuat senang ayah dan bunda." katanya lagi.
"Tapi kok bunda nangis?" ucapku penasaran.
"Bunda hanya merasa bersalah pada anak-anak bunda. Maaf kan bunda ya sayang, bunda tak pernah mengajarimu membaca dan menulis, karena bunda tak bisa, yang bunda bisa, hanya terus mendo’akanmu agar kamu menjadi anak yang cerdas. Bunda juga tak pernah datang kesekolahmu untuk mengambil raport, bunda takut memalukanmu karena bunda tak bisa tanda tangan. Bunda tak pernah mengajarimu mengaji, karena bunda tak bisa mengaji, bunda hanya orang kampung yang tak bisa mengenalkanmu pada teknologi, yang bunda bisa hanya mendo’akanmu, nak. Bunda tak pernah bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Maafkan bunda, Wia. Maafkan bunda." Kurasakan isak tangis bunda semakin sedih.
"Ya Allah bunda, Wia tak pernah berpikir seperti itu." Kutatap bundaku, aku mengerti kesedihannya. Aku memeluk bunda.
"Bunda, tak masalah bunda tak pernah mengajari Wia menulis, karena tiap kata-kata bunda tertancap dalam hati Wia. Tak mengapa bunda, kalau bunda tak pernah mengajari Wia membaca karena dengan itu bunda mengajari Wia untuk menilai sesuatu dengan mata hati. Bunda jangan pernah merasa bersalah karena tak mengajari Wia mengaji, karena bunda selalu mendo’akan Wia agar menjadi anak shalehah. Wia berjanji bunda, akan mengajari bunda mengaji dan dengan bibir ini akan Wia lantunkan ayat-ayat suci Allah hanya untuk bunda. Bunda memang tak seperti wanita karir yang tampak elegant tapi bunda adalah bunda yang mulia karena tak sedetikpun bunda menyerahkan perawatan kami pada orang lain. Tangan bunda yang membelai kami, yang memeluk kami dan tangan itu pula yang selalu mencucikan popok kami tanpa pernah mengeluh. Ya bunda… jangan pernah sedih karena bunda tak pernah ke sekolah Wia, karena Wia yang akan membawa teman-teman Wia kemari dan memperkenalkan bunda Wia. Dan insya Allah bunda akan selalu Wia persembahkan nilai-nilai terbaik Wia untuk bunda dan ayah. Do’a bunda lebih berharga dari apapun di bumi ini, dengan restu bunda, Wia mendapatkan ridha Allah. Insya Allah bunda…"
Ku peluk bunda semakin erat, akan selalu ku simpan janjiku untuk bunda. Terima kasih Ya Allah, telah memberiku bunda yang begitu mulia. Terima kasih….
assalaamu’alaikum wr. wb.
Perkenalkan. Kami ini Muslim.
Islam adalah nama agama kami. Artinya
adalah "selamat" atau "tunduk patuh".
Kami telah bersaksi bahwa tidak ada ilah
selain Allah semata. Anda tidak tahu
ilah? Ilah adalah sesuatu yang
diharapkan, ditakuti, dicintai, dan
dipatuhi oleh manusia. Itulah pernyataan
loyalitas yang kami ulang sedikitnya
sembilan kali dalam sehari semalam.
Kami adalah manusia yang merdeka.
Merdeka dari desakan hawa nafsu. Tidak
mudah, tapi kami selalu berusaha untuk
tetap loyal pada satu-satunya ilah kami.
Kami bukan termasuk orang-orang yang
tunduk pada keinginannya pribadi. Kami
juga tidak tunduk pada godaan kesenangan
badani belaka. Kami merdeka karena
tunduk pada Allah semata.
Bagi kami, tidak ada yang absolut
kecuali Allah. Kami tidak mengutak-atik
Kitab Suci kami, bahkan tidak berani
sekedar untuk menambah satu kata atau
huruf baru ke dalamnya. Kami tidak
berani untuk berpikir bahwa kami lebih
tahu urusan kami sendiri. Ada Yang Maha
Tahu yang akan menyelesaikan segala
urusan kami. Kami berani di hadapan
manusia dan takut di hadapan Allah,
lantang di hadapan diktator dan menyerah
tanpa syarat di hadapan Allah. Jangan
bingung. Ini hanya masalah menempatkan
diri pada kedudukannya yang benar.
Kami ini Muslim.
Anda tahu siapa kami? Kami adalah umat
yang selalu menimbulkan rasa cemas
kepada mereka yang diliputi dengki. Kami
menyuruh putri-putri kami berhijab, dan
hal itu membuat semua orang khawatir.
Padahal mereka tidak ragu melepas
putri-putri mereka dengan pakaian minim
hingga larut malam. Ah, mereka hanya
takut, karena kaum perempuan Muslim
hidupnya lebih menyenangkan. Mereka
takut semua perempuan akan mengikuti
jejak putri-putri kami.
Agama kami memang tidak pernah
menyelisihi fitrah. Semuanya sesuai
dengan karakter dasar manusia. Mereka
menutup aurat bukan karena terpaksa,
melainkan karena memang demikianlah yang
baik bagi mereka. Tanyakanlah pada
putri-putrimu, bukankah hari-hari mereka
dilalui dengan penuh kekhawatiran karena
mata lelaki yang selalu sigap menangkap
apa-apa yang sesuai dengan syahwatnya?
Tanyakanlah pada kaum perempuanmu,
bukankah hidup mereka penuh dengan
penyesalan karena selalu disusahkan oleh
para pria hidung belang? Ah, tidak perlu
dijawab. Kami sudah tahu jawaban jujurnya.
Jangan heran jika kami enggan menyentuh
minuman beralkohol, karena Allah memang
tidak menghendaki hamba-hamba- Nya
melakukan perbuatan-perbuatan yang bodoh
seperti lazimnya orang mabuk. Semua
hukum yang susah payah dirumuskan oleh
negara-negara Barat untuk menghindari
ekses negatif dari minuman keras hanya
teori usang. Cukup sebuah ayat dalam
Al-Qur’an, maka kami pun menjauh
darinya. Inilah bukti ketundukan kami.
Mengapa kalian bingung menyaksikan kami
shalat
lima
waktu setiap harinya? Justru
kamilah yang bingung melihat kalian
begitu jarang meluangkan waktu untuk
Tuhan. Anda pikir shalat itu mempersulit
hidup kami? Demi Allah, kami tidak
membasuh kepala kami dengan wudhu dan
tersungkur dalam sujud kecuali untuk
mendapatkan manisnya iman. Kami paham
jika Anda tidak mengerti. Rasa manis
hanya dipahami oleh mereka yang memiliki
lidah. Iman hanya dimengerti oleh mereka
yang bersedia untuk tunduk.
Kalian yang tidak memahami lezatnya iman
tidak akan mengerti tujuan hidup kami.
Kami hidup hanya untuk mati. Semua
manusia begitu, tapi sedikit yang mau
mengakuinya. Kenyataannya semua manusia
akan mati. Bedanya, kami memiliki tujuan
yang pasti, dan kami yakin pada petunjuk
arah yang terpampang di depan mata. Kami
tidak takut mati, karena mati itu
keniscayaan. Tidak ada bedanya mati
sekarang atau tahun depan. Yang
menjadikannya beda hanyalah caranya.
Kami adalah kaum yang akan maju
berdesak-desakan ketika pintu menuju
syahid terbuka.
Anda tidak paham? Tentu saja, karena
Anda tidak memiliki kerinduan kepada
akhirat.
Siapa pun boleh menyangkal, tapi
kebenaran adalah kebenaran. Kami hanya
menyuarakan kebenaran, dan kebenaran itu
lincah seperti air. Jika terhalang batu,
ia akan mengambil jalan lain. Jika
dibendung, ia akan berkumpul hingga
cukup banyak dan akhirnya melimpah dari
dinding yang menghadang. Jika Anda
berusaha memenjarakan kebenaran yang
terus mengalir dalam suatu wadah, maka
niscaya kebenaran itu akan menekan ke
segala arah, dan semua dinding pun akan
runtuh.
Anda bisa menghina Rasul kami dengan
berbagai gambar yang tak pantas, tapi
semuanya hanya akan berakhir mengenaskan
bagi para penghujat. Di negeri penghujat
Rasulullah saw. itu,
lima
ribu eksemplar
Al-Qur’an telah terjual dalam
lima
bulan
saja. Anda bisa menyebarkan kabar bohong
apa pun tentang kami, namun hal itu
hanya akan mendorong semua orang untuk
mengenal kami lebih jauh. Ini adalah
kabar buruk bagi kalian, karena siapa
pun yang mempelajari Islam dengan baik
niscaya hatinya akan tersentuh.
Teruskanlah makar ini, dan kami akan
tetap menjadi pemenangnya!
Anda bisa mengajak semua orang untuk
memerangi kami, namun kebenaran akan
sampai juga pada telinga-telinga yang
tetap terbuka. Kalian bisa
membumihanguskan negeri-negeri kami,
namun Islam akan sampai juga di negeri
kalian. Cepat atau lambat, negeri kalian
akan menerima Islam dengan tangan
terbuka, karena kebenaran akan selalu
menyentuh hati manusia yang cenderung
pada kelembutan.
Kami ini Muslim. Kamilah yang akan
memenangkan pertarungan, jika memang
Anda bersikeras untuk bertarung. Tapi
jangan khawatir, karena kami tidak
merasa perlu memaksa Anda masuk ke dalam
barisan kami. Cukuplah dengan menjadi
teman yang baik, dan semuanya akan
baik-baik saja. Allah SWT tidak melarang
kami berteman dengan siapa pun yang
tidak memerangi kami. Kepada semuanya,
kami sampaikan salam hangat persahabatan
: bukalah pintu hati kalian untuk
kebenaran, dan ia akan datang dengan
berbagai cara yang belum pernah kalian
bayangkan sebelumnya.
Kami adalah tangan-tangan yang saling
berpegangan dan saling menjaga satu sama
lainnya. Kami adalah dahaga yang saling
mendahulukan. Kami adalah tubuh-tubuh
yang saling menyelamatkan. Kami adalah
lidah-lidah yang saling menghibur dan
hati yang saling mencemaskan.
Kami adalah Muslim. Kami akan menang.
wassalaamu’alaikum wr. wb
sumber : http://akmal. multiply.
com/journal/ item/399
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum –peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin… Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.
Bagi rekan-rekan yang akan melakukan
perjalanan mudik, silahkan simak
informasi penerbangan gratis berikut,
GRATIS TIS TIS
TIS…..
INFORMASI PENERBANGAN GRATIS LAYANAN
PENUH 24 JAM ……….
Sebelum berangkat pastikan kit abaca
informasi penerbangan dan tujuannya
melalui brosur perjalanan yang Al-Qur’an dan
As-Sunah.
Di mana penerbangan bukan dengan Garuda
Airlines, Singapore Airlines, atau US
Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.
Di mana bekal kita bukan lagi tas
seberat 25Kg, tetapi amalan kita
didunia, tak lebih, tak kurang.
Di mana bajunya bukan lagi Pierre
Cardin, atau setaraf dengannya, akan
tetapi kain kafan putih.
Di mana pewanginya bukan Channel atau
Polo, tetapi air biasa yang suci.
Di mana passport kita bukan Indonesia,
British atau American, tetapi Al-Islam.
Di mana visa kita bukan lagi sekedar 6
bulan, tetapi ‘Laailaahaillallah’
Di mana pelayannya bukan pramugari
jelita, tetapi Izrail dan lain-lain.
Di mana servisnya bukan lagi kelas
business atau ekonomi, tetapi sekedar
kain yang diwangikan
Di mana tujuan mendarat bukannya Bandara
Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah
International, tetapi tanah pekuburan.
Di mana ruang menunggunya bukan lagi
ruangan ber AC dan permadani, tetapi
ruang 2×1 meter, gelap gulita.
Di mana pegawai imigrasi adalah Munkar
dan Nakir, mereka hanya memeriksa apakah
kita layak ke tujuan yang diidamkan.
Di mana tidak perlu satpam dan alat
detector.
Di mana lapangan terbang transitnya
adalah Al Barzah
Di mana tujuan terakhir apakah Syurga
yang mengalir sungai di bawahnya atau
Neraka Jahannam.
Penerbangan ini tidak akan dibajak atau
dibom, karena itu tak perlu bimbang.
Sajian tidak akan disediakan, oleh
karena itu tidak perlu merisaukan
masalah alergi atau halal haram makanan.
Jangan risaukan cancel pembatalan,
penerbangan ini senantiasa tepat
waktunya, ia berangkat dan tiba tepat
pada masanya.
Jangan pikirkan tentang hiburan dalam
penerbangan, anda telah hilang selera
bersuka ria.
Jangan bimbang tentang pembelian tiket,
ia telah siap di booking sejak ruh anda
ditiupkan di dalam rahim ibu.
YA…BERITA BAIK !!! Jangan bimbangkan
siapa yang duduk di sebelah anda.
Anda adalah satu-satunya penumpang
penerbangan ini.
Oleh karena itu bergembiralah selagi
bisa! Dan sekiranya anda bisa!
Hanya ingat! Penerbangan ini datang
tanpa ‘Pemberitahuan’.
Cuma perlu ingat!! Nama anda telah
tertulis dalam tiket untuk Penerbangan….
Saat penerbangan anda berangkat…tanpa doa
Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah, atau
ungkapan selamat jalan. Tetapi
Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun….
Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.
ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?
‘Orang yang cerdas adalah orang yang
mengingat kematian. Karena dengan
kecerdasannya dia akan mempersiapkan
segala perbekalan
untuk menghadapinya.’
Sholat adalah sebuah perjalanan kita yang wajib kita lakukan untuk bertemu dengan ALLAH SWT. . Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan yang bisa kita lakukan tiap 5 waktu sehari..
Ibaratkanlah sholat ini seperti sebuah perjalanan kita yang dilakukan dengan pesawat terbang. Ketika sampai di bandara, pastinya kita akan check-in terlebih dahulu, kita mengantri menunggu giliran, seperti mengantri menunggu giliran untuk berwudhu. Stelah tiba giliran kita kita, dipersilahkan untuk menitipkan bagasi kita kepada petugas untuk dimasukkan ke dalam bagasi pesawat demi keselamatan penumpang, sama halnya ketika berwudhu kita diperintahkan oleh ALLAH SWT. Untuk “menitipkan” “bagasi” (urusan dunia kita) untuk sementara waktu kepada ALLAH.
Setelah selesai check-in, kita masuk ruang tunggu untuk menunggu penumpang yang lain, sambil melalukan sesuatu, membaca buku/Koran misalnya. Sama halnya dengan kita masuk ke masjid/musholla untuk menunggu jama’ah yang lain, sambil menunggu kita bisa sholat sunnah atau membaca Al Qur’an terlebih dahulu.
Setelah boarding time tiba, kita dipanggil melalu pengeras suara untuk segera boarding. Begitu juga ketika iqamah, kita dipanggil untuk segera masuk dan menegakkan sholat.
Sesampainya di pesawat kita, disambut dengan ramah oleh para pramugari, begitupun kita, kita disambut dengan ramah oleh para malaikat ALLAH SWT. . Ketika akan take-off, kita diharuskan untuk menggunakan sabuk pengaman demi keamanan kita bersama apabila terjadi turbulence , sebelum sholat pun kita diingatkan oleh imam untuk meluruskan dan merapatkan shaf agar nanti tidak terjadi “turbulence”.
Waktu untuk take-off tiba, pesawat sudah diarahkan kea rah yang benar untuk dapat take-off dengan lancar, masjid/musholla juga begitu namun bedanya, masjid/musholla sudah terarah ke kiblat sejak dibangun. Pesawat mulai bergerak, takbir mulai dikumandangkan, ALLAHU AKBAR seraya mengangkat kedua tangan, pada saat-saat seperti ini terjadi getaran yang sangat dahsyat ketika kita mengumandangkan ALLAHU AKBAR, kita merasa tidak berdaya/tidak punya kekuatan apa-apa dihadapan ALLAH, sama seperti ketika pesawat mulai memacu kecepatannya di-runway, terasa getaran yang sangat “hebat” bukan ?
Ketika pesawat mulai mengudara, badan kita serasa ditarik ke atas, sama seperti halnya ketika kita membaca do’a iftitah, kita “dibawa” ALLAH SWT. ke suatu tempat yang lebih baik untuk bertemu dengan-Nya. Untuk meluruskan posisi pesawat agar tidak miring/agar stabil, pilot perlu untuk merubah arah rudder-nya dan menutup flap yang ada disayapnya. Ketika kita membaca surah Al Fatihah, kita meluruskan arah kita agar kita stabil, karena dalam ayat-ayat di surah Al Fatihah terdapat makna yang sangat dalam, yaitu mengajak kita untuk meluruskan jalan hidup kita.
Ketika pesawat sudah stabil, kita bias melihat kebesaran ALLAH SWT. Dari atas, mulai dari gunung-gunung yang menjulang tinggi, sungai-sungai yang panjang, matahari yang indah, dan lain-lain. Hal ini juga bisa kita “saksikan” dalam ayat-ayat-Nya ketika kita membaca surah-surah yang ada di Al Qur’an.
Begitu juga ketika ruku’, I’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud, itu merupakan pengabdian dan rasa syukur kita kepada ALLAH SWT.atas nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita, seperti ketika kita mengucapkan terima kasih kepada pramugari yang telah memberikan kita hidangan di pesawat.
Ketika sampai waktunya untuk mendarat, dipersilahkan untuk menegakkan kembali sandaran kursi dan mengencangkan sabuk pengaman kita. Pada sholat, hal itu dilakukan pada saat kita duduk tahiyat akhir, kita duduk dengan tegak tidak menyender kepada bahu orang lain (Rasullullah SAW. menganjurkannya seperti itu). Pilotpun mulai mengarahkan pesawatnya ke runway, begitu juga ketika duduk tahiyat akhir, kita arahkan pandangan kita terhadap jari telunjuk kanan kita yang telah kita acungkan ke arah kiblat, hal itu bermakna kita hanya mengarahkan segala sesuatunya terhadap hukum ALLAH SWT.
Ketika sudah mendarat, dan pesawat mulai berhenti, para penumpang mulai mengarahkan pandangannya ke arah lain sambil melepaskan sabuk pengamannya yang mengikat erat pada pinggangnya. Ketika salam, kita menoleh ke kanan lalu ke kiri, setelah itu kita saling melepasan “sabuk pengaman” masing-masing dengan merubah posisi duduk, ada yang sedikit ke depan dan ada pula yang ke belakang. Ketika itu pula kita bersyukur kepada ALLAH SWT. dapat mendarat dengan selamat sama seperti kita berdo’a kepada ALLAH SWT. sehabis sholat, namun bedanya setelah sholat kita banyak berdzikir dan berdo’a kepada ALLAH SWT.tetapi jika di pesawat, kita hanya berdo’a sesaat lalu pergi.
Selesai berdo’a, para penumpang dipersilahkan untuk mengambil bagasi kabinnya (jika ada), ketika itu pula kita diperkenankan untuk mengambil “bagasi kabin” kita yang dititipkan di masjid/musholla. Berbeda dengan di pesawat, di masjid kita boleh keluar kapan saja kita mau, tetapi di pesawat kita harus segera keluar karena pesawat akan digunakan untuk perjalanan yang lain.
Setelah itu kita pergi ke terminal kedatangan untuk mengambil bagsi besar kita, setelah selesai sholat dan berdo’a kita diperkenankan untuk “mengambil” kembali “bagasi” dunia kita untuk kemudian diurus kembali.
Begitulah, ALLAH WST.telah mengatur semuanya dengan cermat “perjalanan” ke tempatnya dengan cara yang menyenangkan, hal itu dilakukan agar manusia tidak akan pernah meninggalkan sholat. Tetapi kebanyakan mnusia tidak mengerti.
Copyright© 2006 by ACT-BAR. All rights reserved.
Pada suatu senja yang lenggang,
terlihat seorang wanita berjalan
terhuyung-huyung. Pakaiannya yang
serba hitam menandakan bahwa ia berada
dalam duka cita yang mencekam.
Kerudungnya menangkup rapat hampir
seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau
perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit
yang bersih, badan yang ramping dan
roman mukanya yang ayu, tidak dapat
menghapus kesan kepedihan yang tengah
meruyak hidupnya. Ia melangkah
terseret-seret mendekati kediaman
rumah Nabi Musa a.s.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil
mengucapkan salam. Maka terdengarlah
ucapan dari dalam "Silakan masuk".
Perempuan cantik itu lalu berjalan
masuk sambil kepalanya terus merunduk.
Air matanya berderai tatkala ia
berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah
saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan
mengampuni dosa keji saya." "Apakah
dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi
Musa as terkejut. "Saya takut
mengatakannya." jawab wanita
cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!"
desak Nabi Musa a.s. Maka perempuan
itupun terpatah
bercerita, "Saya …….telah
berzina." Kepala Nabi Musa terangkat,
hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, "Dari
perzinaan itu saya pun……lantas
hamil. Setelah anak itu lahir,
langsung saya……. cekik lehernya
sampai……tewas", ucap wanita itu
seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi
Musa a.s. berapi-api matanya. Dengan
muka berang ia menghardik," Perempuan
bejad, enyah kamu dari sini! Agar
siksa Allah tidak jatuh ke dalam
rumahku karena perbuatanmu.
Pergi!"…teriak Nabi Musa a.s. sambil
memalingkan mata karena jijik.
Perempuan berewajah ayu dengan hati
bagaikan kaca membentur batu, hancur
luluh segera bangkit dan melangkah
surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari
dalam rumah Nabi Musa a.s. Ratap
tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu
harus kemana lagi hendak mengadu.
Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana
lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi
saja sudah menolaknya, bagaimana pula
manusia lain bakal menerimanya?
Terbayang olehnya betapa besar
dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia
tidak tahu bahwa sepeninggalnya,
Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi
Musa a.s. Sang Ruhul Amin Jibril lalu
bertanya, "Mengapa engkau menolak
seorang wanita yang hendak bertobat
dari dosanya? Tidakkah engkau tahu
dosa yang lebih besar daripadanya?"
Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah
yang lebih besar dari kekejian wanita
pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi
Musa dengan penuh rasa ingin tahu
bertanya kepada Jibril.
"Betulkah ada dosa yang lebih besar
dari pada perempuan yang nista
itu?" "
Ada
!" jawab Jibril dengan
tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa
kian penasaran. "Orang yang
meninggalkan sholat dengan sengaja dan
tanpa menyesal. Orang itu dosanya
lebih besar dari pada seribu kali
berzina".Mendengar penjelasan ini Nabi
Musa kemudian memanggil wanita tadi
untuk menghadap kembali kepadanya. Ia
mengangkat tangan dengan khusuk untuk
memohonkan ampunan kepada Allah untuk
perempuan tersebut.
Nabi Musa menyadari, orang yang
meninggalkan sembahyang dengan sengaja
dan tanpa penyesalan adalah sama saja
seperti berpendapat bahwa sembahyang
itu tidak wajib dan tidak perlu atas
dirinya. Berarti ia seakan-akan
menganggap remeh perintah Tuhan,
bahkan seolah-olah menganggap Tuhan
tidak punya hak untuk mengatur dan
memerintah hamba-Nya. Sedang orang
yang bertobat dan menyesali dosanya
dengan
sungguh-sungguh berarti masih
mempunyai iman didadanya dan yakin
bahwa Allah itu berada di jalan
ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya
Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.
Tolong sebarkan kepada saudara-saudara
kita yang belum mengetahui.
Oleh : AL-Pacitan Saat itu Umar bin Khotob menjabat sebagai Kholifah ( Presiden )….. Datanglah serombongan orang dari negeri seberang ingin menemui Beliau…. Setelah beberapa hari berjalan, sampailah rombongan itu di Iraq, negara tempat di mana Umar mengendalikan Pemerintahan- nya( Daulah Islamiyah )… Salah satu diantara mereka bertanya pada penduduk, " Dimanakah kami bisa bertemu Kholifah Umar (Presiden).. .???"… "..Oh mudah sekali, berjalanlah lurus sedikit lagi, nanti ada tanah kosong agak luas dan akan kelihatanlah dari jauh Rumah Umar..", Jawab Penduduk itu dng singkat.. Tidak begitu lama berjalan, rombongan tersebut telah menemukan sebidang tanah kosong & melihat sebuah rumah dari kejauhan seperti kata penduduk yg di tanya tadi… Semakin mereka berjalan mendekat ke rumah yg di yakini milik Umar, rombongan tersebut semakin di buat heran & penuh tanya.. Karena rumah tersebut amatlah sangat sederhana, lebih tepat jika di sebut sebagai sebuah Gubuk…. Setelah jarak rombongan tersebut tinggal beberapa puluh meter dari rumah Umar, mereka bertanya pada seorang laki-laki yg sedang berbaring di bawah pohon…. "…Mohon ma’af kami mengganggu istirahat anda, saya mau bertanya, benarkah Rumah di depan itu Rumahnya Kholifah Umar…?? Tanya salah seorang dari rombongan tersebut.. "…Oh BENAR..anda siapa & darimana..?? ??…Jawab lelaki yg ditanya sambil bangun dari rebahan-nya yg hanya ber-alaskan dedaunan…. "..Kami dari negeri seberang & ingin bertemu Beliau….". .Jawab salah seorang Rombongan itu.. "…Oh begitu & Sayalah UMAR yg kalian cari.." Jawab Umar Bin Khotob… Kontan Jawaban Umar bin Khotob membuat rombongan tersebut menjadi TERPERANJAT AMAT KAGET & HERAN PENUH TANDA TANYA serta keluarlah beberapa pertanyaan & perkataan dari mereka… "…Wahai Umar, mengapa engkau tanpa pengawal & mengapa engkau kelihatan begitu tenang & terlihat begitu merasa aman tanpa pengawalan, Padahal engkau seorang Kholifah ( Presiden )..?? "…Wahai Umar mengapa engkau ber-istirahat tidur-tiduran di bawah pohon seperti ini, mengapa engkau tidak beristirahat di istana..?? " ..Raja kami di negara seberang sana selalu di kelilingi oleh para Pengawal kemanapun dia pergi & mempunyai istana yg megah & mewah.." Tanya rombongan tersebut saling menimpali.. Sambil tersenyum Umar Bin Khotob menjawab dng tenang… "..saya adalah orang Islam, jadi saya & Para Pemimpin pendahulu saya yaitu Nabi Muhammad Saw & Abu Bakar AMAT YAKIN bahwa JABATAN yg saya pegang saat ini adalah AMANAH dari ALLAH swt dan PASTI akan di mintai pertanggungjawaban di akhirat nanti oleh ALLAH swt…" "…ALLAH swt memerintahkan kami untuk berbuat adil-seadil- adilnya & menurut hukum Islam ( Hukum ALLAH swt ) seorang Pemimpin itu jika lapar harus duluan & jika Kenyang harus belakangan.. ." "..Saya TIDAK BUTUH Pengawal, karena saya & Para Pendahulu saya TIDAK pernah menyakiti rakyat yg kami pimpin & kami TIDAK PERNAH menyakiti siapapun, Jadi kami TIDAK pernah merasa PUNYA MUSUH sehingga kami TIDAK MEMBUTUHKAN PENGAWALAN & PENGAMANAN.. .."
Sekarang… BANDINGKAN antara Umar bin Khotob dng G W Bush….
Bush, kemanapun dia pergi selalu dalam pengawalan super ketat yg berlapis-lapis. … Bush, kemanapun dia pergi selalu minta di kawal & harus di kawal oleh seluruh pasukan-nya, baik dari pasukan regulernya, pasukan elitnya, seluruh pasukan Rahasianya mulai dari FBI & CIA Plus lusinan pasukan Terlatih kusus untuk pengawalan dirinya dari agen MOSSAD ( Dinas rahasia Israel)… Bahkan negara yg akan Bush kunjungi dari jauh-jauh hari selalu di perintahkan oleh Bush untuk memepersiapkan & harus mempersiapkan segala macam Pengamanan & Pengawalan bagi ke-amanan diri nya.. Dalam kondisi NORMAL seharusnya G W Bush MARAH dng keadaan seperti itu… Buat apa di adakan segala macam Pengawalan Ketat & Pengamanan berlapis-lapis buat dirinya..??? Memang dirinya adalah seorang PENJAHAT ? memang dirinya seorang PERAMPOK ? memang dirinya seorang TERORIS atau seorang Big Bos MAFIA ? memang dirinya seorang La Cosa Nostra ? sehingga harus di kawal super ketat & harus di beri Pengamanan seperti itu..???? Tapi G W Bush TIDAK MARAH, karena memang dirinya amat sangat mebutuhkan segala macam Pengawalan & Pengamanan seperti itu, mengapa..??? …. Karena G W Bush adalah orang JUJUR se JUJUR-JUJUR nya, bahwa … Dia telah banyak membantai ratusan ribu manusia & telah banyak membuat kesengsaraan Jutaan manusia di seluruh dunia, mulai dari Afghanistan, Iraq, Palestina, Somalia, Sudan, dan rakyat amerika, negaranya sendiri dan di mana-mana… . Makanya… Bush, AMAT SANGAT Ke- TAKUTAN dalam segala keadaan…. Sehingga Bush AMAT SANGAT MEMBUTUHKAN segala macam PENGAWALAN bagi ke-amanan dirinya…. Karena Bush TAHU & SADAR-se SADAR-SADAR- nya Bahwa dirinya itu AMAT SANGAT JAHAT … Bush juga tahu bahwa hampir manusia di seluruh dunia amat sangat me - MBENCI diri-nya… Salam AL-Pacitan